OCHI ROCHIDA
Kamis, 29 April 2021
KUMPULAN DAWUH GUS MIEK: HIDUP ITU KULIAH TANPA BANGKU
Gus Miek atau armarhum KH Hamim Tohari Jazuli adalah
tokoh langka yang dikenal sebagai sosok waskita. Gerakan dakwahnya merambah
dari sudut-sudut gelap diskotik hingga majelis-majelis tasmi'ul Qur'an yang
bercahaya. Berikut ini beberapa dhawuh beliau yang berkaitan dengan perihal
ilmu dan kehidupan santri. Semoga kita semua bisa memetik hikmahnya.
Dekatlan kepada Allah! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat dengan-Nya.
Berbaik sangka itu sulit. Jangankan berbaik sangka kepada Allah, kepada para wali dan para kiai sepuh saja sulit.
Huruf hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhot, sampai ya’. Demikian juga dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhot saja. Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau di omongi huruf tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.
Akhirnya (maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya, dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar halal, kalau kita memang mendambakan ridho Allah.
Di era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu teoretis. Semua kiai dan ulama sekarang ini dituntut mengerti bahwa dirinya punya satu tugas dari Allah, yakni membawa misi manusiawi.
Saya punya pertanyaan buat diri saya sendiri: mampukah saya mengatarkan “anak-anak?” Sedang ulama saja banyak yang kurang mampu mengantarkan anak-anak untuk saleh dan sukses. Suksenya diraih, salehnya meleset. Di dalam pesantren sama sekali tidak diajarkan keterampilan. Timbul pertanyaan: Bagaimana anak-anak kami nanti di masa mendatang, bisnisnya, ekonominya, nafkahnya hariannya? Mungkinkah mereka berumah tangga dengan kondisi seperti ini?.
Para santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti Gontor dan pondok pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana, keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren yang ada wiridannya.
Sukses dalam studi belum menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya, di luar buku, di luar bangku, di luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah. Kita harus banyak belajar. Antara lain belajar dangdut Jawa, belajar tolak berhala, dan belajar tolak berhala itu sulit sekali! Sulit sekali.
Mbah, kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu atau putra-putra ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai mengaji, langsung saja ditaruh kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji.
Seorang (santri) yang tak kuat menahan lapar, bahayanya orang (santri) itu di pondok bisa berani banyak utang.
Mbah, kalau kamu menggantungkan kiriman dari rumah, kalau belum dikirim jangan mengharap-harap dikirim, semua sudah diatur oleh Allah.
Sekarang, mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar. Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya? Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.
Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe tumut ujian, jawab Siroj. Kapan? tanya Gus miek . sak niki, jawab Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne. Yoh, dolan melu aku.
Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.
“Kamu mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi, alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo ikut bersama saya ke Malang.
"Hidup ini sejak lahir hingga mati, adalah kuliah tanpa bangku."
Sabtu, 28 September 2019
Gus Miek Wajah Penuh Harapan
Jarum jam menujukkan pukul tujuh malam. Tampak dua sosok manusia berjalan di sebelah selatan pondok, berjalan agak terhuyung-huyung disebabkan terdesak oleh berjubel pendatang dan tamu undangan yang hormat haul almarhum Mbah KH Djazuli tahun 1991. Banyak yang tidak menyadari siapa dua sosok yang melintas dan berpapasan pada acara yang penuh lautan manusia itu.
Seorang santri cilik berusia 12 tahun yang secara kebetulan berpapasan, menyaksikan peristiwa itu penuh tanda tanya. Siapakah dua sosok yang melintas ini? Mengapa kedua tangannya ditaruh di pundak temannya? Tiba-tiba ada suara yang berbisik-bisik berkata: "Gus Miek, rawuh." Santri cilik ini pun terkesiap, ternyata yang berpapasan dengannya adalah Gus Miek, tokoh idolanya. Seketika itu juga santri cilik ini putar balik mengejar, namun tak berhasil melewati kerumunan manusia yang juga berebut sungkem kepada kyai nyentrik ini.
Prosesi haul berlangsung meriah, sebab dihadiri oleh Gus Miek yang kala itu merupakan kyai khos dan dinanti keberkahannya. Ketika acara haul telah usai, Gus Miek berada di ndalem bersama Gus Tajud (putra pertama beliau), yang mengiringi kawalan sejak berada di selatan pondok tadi.
Dawuh Gus Miek yang masih segar diingat saat haul oleh santri cilik itu adalah: "quu anfusakum wa ahlikum naaro" (jauhkan dirimu dan keluargamu dari api neraka). Bagi Gus Miek, keluarga adalah pintu pertama menapaki sukses dunia akhirat. Mendidik anak dengan nilai-nilai luhur serta dasar aqidah sesuai tuntunan Rasulullah menjadi syarat mutlak terbentuknya masyarakat madani. Sebab, jika diri sendiri dan keluarga sudah kokoh pondasi aqidahnya, maka sebarkan kebaikan itu kepada masyarakat sekitar. Sehingga terjadilah saling terikat atau istilah amtsilatu tashrifiyyah "musyarokah baina itsnain fa aktsaro" (persekutuan saling timbal balik antara dua orang maupun lebih). Bahasa terkini semacam simbiosis mutualisme, saling menguntungkan dan mempengaruhi. Terbukti perhatian Gus Miek terhadap pentingnya menjaga diri dan keluarga tertuang dalam syairan dzikrul ghofilin "Amin Ya Allah, Duh Gusti kang melasi, Panjenengan Moho Lumo aris lan mitulungi. Duh Gusti kulo nyuwun, sehat manah lan rogo. Lan waras badan kulo, putro lan keluargo."
Serbuan para samiin dan tamu undangan merangsek maju berebut tangan lembut Gus Miek. Santri cilik yang tadi gagal mengejar, ikut pula berburu sungkem, sehingga larut bersama para "penggemar" Gus Miek. Namun apa dikata, santri kecil ini gagal lagi. Ia dihadang pagar betis keamanan pondok, dan tubuh kurusnya terhimpit oleh daging-daging gempal keamanan pondok. Dia terlempar keluar, dan tampaklah wajah kecewa pada dirinya. Dia hanya bisa memandang dari kejauhan wajah kyai idolanya yang terlihat capek tapi tetap tersenyum melayani puluhan tangan yang berebut sungkem.
Dengan langkah gontai, santri cilik ini pulang ke kamar pondok, untuk melepas penat dan kecewa. Baginya, harapan untuk sungkem itu takkan pernah terwujud. Ia pesimis bisa berjumpa Gus Miek lagi. Santri kecil ini pun tertidur, beralaskan sajadah pinjaman milik temannya.
Suara tarhim subuh berkumandang, Si santri cilik bangun dengan wajah berseri-seri. Teman-teman sekamar heran akan keceriaannya usai tidur itu, sehingga salah satu teman bertanya: "Kowe, tangi turu ngguya-ngguyu girang onok opo?" (Kamu, bangun tidur senyam-senyum ada apa?) Santri cilik itu menjawab dengan polos: "Alhamdulillah aku mimpi ketemu Gus Miek, terus aku sungkem, dirangkul, diuruki moco wirid, tangane empuk lan anget." (Alhamdulillah, saya bermimpi bertemu Gus Miek, lalu sungkem, dirangkul, diajari wiridan). Teman-teman sekamar tertawa terbahak-bahak. Lalu teman lain yang berkumis berkata: "Ngimpi ngunu ae girang men" (mimpi begitu aja girang banget). Sambil meledek, bahwa mimpi hanya kembang tidur. Santri cilik itu tidak peduli apa kata teman sekamar. Baginya, mimpi itu memiliki pesan dan kesan yang dalam.
Awal Tahun 1993, surat kabar menulis tentang Gus Miek yang sedang sakit. Kyai ini dawuh: "Sakit itu adalah bentuk cinta Allah kepada kita, sakit itu wujud lain dari nikmat."
Bulan Juni, setelah Isya, tiba-tiba ada berita duka KH Hamim Djazuli alias Gus Miek kapundut. Seluruh santri diwajibkan membaca surat al-ikhlas. Santri cilik yang ngefans Gus Miek tadi langsung bergabung dengan santri lain berdzikir bersama untuk Gus Miek. Keesokan paginya lautan manusia berdatangan; ada budayawan, artis, pejabat, ulama, kejawen, berduyun-duyun melepas kepergian Gus Miek.
Sebagai wakil keluarga, Kyai Dah (KH. Nurul Huda Djazuli) dawuh bahwa Gus Miek memiliki kelebihan yang jarang ditemui pada orang lain. “Diantaranya, masalah apapun jika berhadapan dengan Gus Miek, seketika itu juga langsung ada solusinya, padahal belum disampaikan. Gundah dan gelisah akan berangsur hilang ketika menatap wajah Gus Miek," katanya.
Sedangkan menurut Gus Dur: "Gus Miek tak kenal lelah memberikan harapan kepada siapapun untuk menjadi lebih baik." Laku beliau mendatangi tempat bromocorah, hanya untuk mengajak melakukan perbuatan baik, bermanfaat duniawi ukhrawi. Beliau tidak membedakan antara artis maupun santri. Semuanya memiliki porsi atau harapan untuk berbuat baik. Khariqul ‘adah (nyleneh) yang acapkali dialamatkan kepada Kyai Miek ini bukanlah melulu sakti dan keramat. Dikatakan nyleneh, sebab Gus Miek memiliki kebiasaan yang menembus batas kebiasaan manusia umum. Contoh, manusia pada umumnya sehari istirahat tidur 5 hingga 7 jam. Gus Miek sanggup tidak istirahat sama sekali. Kebiasaan ulama yang berdakwah, menunggu bola atau disowani. Tapi kebiasaan Gus Miek berdakwah haruslah menjemput bola dalam artian mendatangi umat. Hal-hal demikianlah menurut kacamata awam menjadi khusus atau istilahnya ciri khas.
Kisah yang dialami santri cilik, yang putus asa (harapan) tadi adalah refleksi sosok Gus Miek yang tetap memberikan harapan kepada santri cilik meskipun lewat mimpi. Oleh karenanya Gus Miek merupakan manifestasi wajah penuh harapan agar manusia selalu berbuat baik dengan cara yang baik, meskipun sekelilingnya tidak baik atau banyak kemungkaran. Gus Miek menyapa, hadir untuk mengarahkan dengan cara santun tanpa mengorbankan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, dalam salah satu syiiran beliau berbunyi: "Pengeran Panjenengan, dandosi kulo niki. Lahir batin sarono manah sahe kang suci." Syair dan doa-doa beliau tertulis di bagian akhir dzikrul ghofilin atau mengingatkan mereka yang lupa. (saiful)
Keterangan gambar: Gus Tajud dan Gus Miek (bersorban), dua sosok yang berpapasan santri cilik. (dok. istimewa)
Dawuh Gus Miek Sambungan
Dhawuh 67
Tadi ada orang bertanya: Gus, saya ini di kampung bersama orang banyak. Jawab saya: Yangpenting ingat pada Allah, tidak merasa lebih suci dari yang lain, tidak sempat melirik maksiat orang lain, dengan siapa saja mempunyai hati yang baik, itulah ciri khas pengamal Dzikrul Ghofilin.
Dhawuh 68
Era sekarang, orang yang selamat itu adalah orang yang apa adanya, lugu dan menyisihkan diri.
Dhawuh 69
“Miftah, kamu masih tetap suka bertarung pencak silat?” Tanya Gus Miek. Lha bagaimana Gus, saya ikut, jawab Miftah. “Kalau kamu masih suka (bertarung) pencak, jangan mengharap baunya surga.”
Dhawuh 70
Saya lebih tertarik pada salah seorang ulama terdahulu, contohnya Ahmad bin Hambal. Kalau masuk tempat hiburan yang diharamkan Islam, dia justru berdoa: “Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah mereka diakhirat nanti. Seperti halnya orang-orang di sini bahagia, semoga berbahagia pula mereka diakhirat nanti.” Ini kan doa yang mahal sekali dan sangat halus. Tampak bahwa Ahmad bin Hambal tidak suka model unjuk rasa, demonstrasi anti ini anti itu. Apalagi seperti saya yang seorang musafir, saya dituntut untuk lebih menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.
Dhawuh 71
Seorang yang diolok-olok atau dicela orang lain, apa itu termasuk sabar? Badanya sakit, anaknya juga sakit, istrinya meninggal, apa itu juga termasuk sabar? Hartanya hancur, istrinya mati, anaknya juga mati, apa itu termasuk orang yang sudah sabar? Seperti itu tidak bisa disebut sebagai orang sabar, entah sabar itu bagaimana, aku sendiri tidak mengerti.
Dhawuh 72
Tadi, ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga) saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah, bacalah Al Qur’an.
Dhawuh 73
Tadi ada yang bertanya: Gus, bagaimana ya, ibadah saya sudah bagus, shalat saya juga bagus, tetapi musibah kok datang dan pergi? Saya jawab: mungkin masih banyak dosanya, mungkin juga bakal diangkat derajat akhiratnya oleh Allah; janganlah berkecil hati.
Dhawuh 74
Orang-orang membacakan Al-Fatehah untukku, katanya aku ini sakit. Aku ini tidak sakit, hanya fisikku saja yang tidak kuat karena aktivitasku ini hanya dari mobil ke mobil, dan tidak pernah libur.
Dhawuh 75
Ada empat macam perempuan yan diidam-idamkan semua orang (lelaki). Perempuan yang kaya, perempuan bangsawan, dan perempuan yang cantik. Tapi ada satu kelebihan yan tidak dimiliki oleh ketiga perempuan itu, yaitu perempuan yang berbudi.
Dhawuh 76
Anaknya orang biasa itu ada yang baik dan ada yang jelek. Demikian juga anaknya kiai, ada yang baik dan ada yang jelek. Jangankan anaknya orang biasa atau anaknya kiai, anaknya nabi pun ada yang berisi dan ada yang kosong. Kalau sudah begini, yang paling baik bagi kita adalah berdoa.
Dhawuh 77
Di tengah-tengah sulitnya kita mengarahkan istri, menata rumah tangga, dan sulitnya menciptakan sesuatu yang indah, sedang tanda-tanda musibah pun tampak di depan mata, semua itu menuntut kita menyusun ketahanan batiniah, berusaha bagaimana agar Allah sayang dan perhatian kepada kita semua.
Dhawuh 78
Tadi, ada orang yang bertanya: anak
saya nakal, ditekan justru menjadi-jadi, bagaimana Gus?
Nasehat orang tua terhadap anaknya janganlah menggunakan bahasa militer, pakailah
bahasa
kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.
Dhawuh 79
Gus, kenapa Anda menamakan anak Anda dengan bahasa Arab dan non Arab? Begini, alas an saya menamakan dengan dua bahasa itu karena mbahnya dua; mbahnya di sini santri, mbahnya di sana bukan. Mbahnya di sini biar memanggil Tajud karena santri, mbahnya di sana yang bukan santri biar memanggil Herucokro; mbanya di sini biar memanggil sabuth, mbahnya di sana biar memanggil panotoprojo.
Dhawuh 80
Menurut Anda, bagaimana sebaik-baiknya busana muslim itu? Jilbab kan banyak dipertentangkan akhir-akhir ini? Pada akhirnya, seperti penggabungan Indonesia, Siangapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina menjadi ASEAN, tidak menutup kemungkinan, ada bahasa dan busana ASEAN. Sehingga siapa pun dengan terpaksa untuk ikut dan patuh. Ya, kita sebagai orang tua harus diam kalau itu nanti terjadi, dan kalau ingin selamat, ya mulai sekarang kita harus berbenah.
Dhawuh 81
Saya kira-kira dituntut untuk lebih menggalakkan ibadatul qalbi (ibadah dalam hati). Mungkin begitu. Sebetulnya putri rekan-rekan ulama juga sudah banyak yang terbawa arus; ya sebagian ada yang masih mengikuti aturan, tetap berjilbab, misalnya. Tetapi ada juga yang tetap berjilbab karena sungkan lantaran orang tuanya mubaligh. Secara umum, sudah banyak yang terbawa arus.
Dhawuh 82
Dunia ini semakin lama semakin gelap, banyak hamba Allah yang bingung, dan sebagian sudah gila. Sahabat Muazd bin Jabbal berkata: “siapa yang ingat Allah di tengah-tengah dunia yang ramainya seperti pasar ini, dia sama dengan menyinari alam ini.”
Dhawuh 83
Memiliki lidah atau mulut itu jangan dibirkan saja, lebih baik dibuat zikir pada Allah, dilanggengkan membaca lafal Allah.
Dhawuh 84
Hadirin tadi ada orang yang bertanya: Gus, pendengar Al Qur’an ini kalau usai shalat fardhu, yang terbaik membaca apa ya? Saya jawab: Untuk wiridan, kecuali kalian yang sudah mengikuti sebagian tarekat mu’tabarah, baik membaca Al Fatehah 100 kali. Ini juga menjadi simbolnya Dzikrul Ghofilin. Resepnya, mengikuti imam Abu Hamid Al Ghazali, yang juga diijasahnya oleh adiknya, Syaikh Ahmad Al Ghazali.
Dhawuh 85
Trimah, kamu pasti mau bertanya: Kiai, wiridannya apa, mau bertanya begitu kan? Tidak sulit-sulit, baca shalawat sekali, pahalanya 10 kali lipat; jangan repot-repot, baca shallallah ‘ala Muhammad, itu saja, yang penting benar.
Dhawuh 86
Saya punya penyakit yang orang lain tidak tahu. Saya ini terus terang tamak, takabur yang , dan diam-diam ingin kaya. Padahal saya punya persoalan khusus dengan Allah. Artinya, saya adalah hamba yang diceramahkan, sedang Allah yang sudah saya yakini adalah sutradara.
Dhawuh 87
Persoalan mengenai hakikat hidup di dunia masih sering kita anggap remeh. Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan sebentuk muhasabah. Sejauh mana tauhid kita, misalnya. Dan, ternyata kita belum apa-apa. Kita belum menjadi mukmin dan muslim yang kuat.
Dhawuh 88
Taqarrub (pendekatan) kita kepada Allah seharusnya menjadi obat penawar bagi kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang diberikan Allah, syukuri saja. Sayang, terkadang kita belum bisa menciptakan keadaan yang demikian. Kita seharusnya bangga menjadi orang yang fakir. Sebab sebagian penghuni surga itu adalah orang –orang fakir yang baik.
Dhawuh 89
Dahulu, pada usia sekitar 10 tahun, saya sering didekati orang,dikira saya itu siapa. Ungkapan orang yang datang kepada saya itu-itu saja: minta restu atau mengungkapkan kekurangan,terutama yang berhubungan dengan materi. Perempuan yang mau melahirkan juga datang. Dikira saya ini bidan. Karena makin banyak orang berdatangan, lalu saya menyimpulkan: jangan-jangan saya ini senang dihormati orang, jangan-jangan saya ini dianggap dukun tiban juru penolong atau orang sakti.
Dhawuh 90
Surga itu miliknya orang-orang yang sembahyang tepat pada waktunya.
Dhawuh 91
Shalat itu, yang paling baik, di tengah-tengah Al-Fatehah harus jernih pikiran dan hati.
Dhawuh 92
Shalat itu, yang paling baik adalah berpikir di tengah-tengah membaca Al-Fatehah.
Dhawuh 93
Coro pethek bodon. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik satu itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik dua itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik tiga itu baru untung.
Dhawuh 94
Kalau kamu ingin meningkat satu strip, barang yang kamu sayangi ketika diminta orang, berikan saja. Itu naik 1 strip, lebih-lebih sebelum diminta, tentu akan naik 1 strip lagi.
Dhawuh 95
Seorang yang berani melakukan dosa, harus berani pula bertobat.
Dhawuh 96
Kalau kamu mengerjakan kebaikan, sebaiknya kau simpan rapat-rapat; kalau melakukan keburukan, terserah kamu saja: mau kau simpan atau kau siarkan.
Dhawuh 97
Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe tumut ujian, jawab Siroj. Kapan? tanya Gus miek. sak niki, jawab Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne. Yoh, dolan melu aku. Artinya: Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.
Dhawuh 98
“Kamu mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi, alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo ikut bersama saya ke Malang.
Dhawuh 99
Saya katakan kepada anak-anak, Dzikrul Ghofilin jangan sampai diiklankan atau dipromosikan sebagai senjata pengatrol kesuksesan duniawi.
Dhawuh 100
Saya imbau, jangan sampai ada yang berjaga lailatul Qodar, itu ibarat memikat burung perkutut.
Dhawuh 101
Belum tahun 2000 saja sudah begini; bagaimana kelak di atas tahun 2000? Dunia ini semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas.
Dhawuh 102
Saya senang orang-orang Nganjuk karena orangnya kecil-kecil. Ini sesuai sabda nabi: “Orang itu yang baik berat badannya 50.” Juga, ada sabda lain yang menguatkan : “Orang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling sedikit makannya.” Ini sesuai firman Allah: Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (QS. Quraiys: 4). Lapar adalah syarat untuk menghasilkan tujuan. Maka, siapa tidak senang lapar, ia bukan bagian dari ahli khalwat (menyendiri).
Dhawuh 103
Miftah, kalau kamu nanti sudah pulang dari mondok, jangan suka menjadi orang terdepan.
Dhawuh 104
Biarkan dunia ini maju. Akan tetapi,
bagi kita umat Islam, akan lebih baik kalau kemajuan di bidang lahiriah dan
umumiyah ini dibarengi dengan iman, ubudiyah, serta sejumlah keterampilan
positif.
Jadi, memasuki era globalisasi menuntut kita untuk lebih meyakini bahwa shalat
lima waktu itu, misalnya, adalah senam atau olah raga yang paling baik.
Setidak-tidaknya, bagi orang Jawa bangun pagi itu tentu baik. Apalagi kita yang
mukmin. Dengan bangun pagi dan menyakini bahwa kegiatan shalat
Subuh adalah senam olah raga yang paling baik, otomatis kita tersentuh untuk bergegas
selakukan itu.
Dhawuh 105
Sir, kalau kamu mau bertemu aku, bacalah Al-Fatehah 100 kali.
Dhawuh 106
Kalau mau mencari aku, di mana dan kapan saja, silakan baca surah Al-Fatehah.
Dhawuh 107
Mbah, kalau kamu mau bertemu aku, sedang kamu masih repot, kirimi saja aku Al-Fatehah, 41kali.
Dhawuh 108
Mencari aku itu sulit; kalau mau bertemu dengan aku, akrablah dengan keluargaku, itu sama saja dengan bertemu aku.