Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin.
“Lho, Gus kok berkata begitu bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus
Ali sidoarjo.”mereka hanya meramaikan saja” , jawab Gus Miek
Bila mengikuti DZKRUL GHOFILIN kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya
yakin.
Demi Allah, saya hanya bisa menangis kepada Allah, semoga sami’in yang
setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua maslah-masalahnya tuntas diperhatikan
oleh Allah.
Barusan ada orang bertanya: Gus, Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab:
“Jamu”.
Ulama sesepuh yang dikirimi fatihah oleh orang-orang yang tertera atau
tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan saya dan kalian ikuti di akhirat
nanti.
Dzikrul Ghofilin itu senjata pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke
atas
Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat
denganNya.
Semoga Dzikrul Ghofilin ini menjadi ketahanan batiniah kita, sekaligus
penyangga kita di hari Hisab (hari perhitungan amal). Itulah yang paling
penting..!
Kemanunggalan sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang
harus di wujudkan oleh pendherek, pimpinan Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah
sema’an Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an kaliyan Dzikrul Ghofilin
ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata marroh ba’da kulli shalatin,
meniko berkaitan manunggal.
Nuzulul Qur’an yang bersamaan dengan turunnya hujan ini, semoga menjadi
isyarat turunnya petunjuk kepada saya dan kalian semua, seperti firman Allah:
“Ulaika ‘ala hudan min rabbihim wa ulaika hum al-muflihun” (Mereka telah berada
di jalan petunjuk , dan mereka adalah orang-orang yang beruntung).
Sejak sekarang, yang kecil harus berpikir: kelak kalau besar, aku besar
seperti apa, yang besar harus berpikir, kalau tua kelak, aku tua seperti apa,
yang tua juga harus berpikir, kelak kalau mati, aku mati dalam keadaan seperti
apa.
Barusan ada orang yang bertanya: Gus, bagaimana saya ini, saya tidak bisa
membaca Al Qur’an..? saya jawab: “Paham atau tidak, yang penting sampean datang
ke acara sema’an, karena mendengarkan saja besar pahalanya”.
Dalam sema’an ada seorang pembaca Al Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in.
Seperti ditegaskan oleh sebuah hadits: Baik pembaca maupun pendengar setia Al
Qur’an pahalanya sama. Malah di dalam ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar
itu pahalanya lebih besar daripada pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati,
pikiran, dan telinganya. Pendengar dituntut untuk lebih menata hati dan
pikirannya dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah.
Seorang yang ikut sema’an berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah
yang sedang dihadapinya pasti akan beres/tuntas.
Satu-satunya tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah
majelis sema’an Al Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga
hadits. Antara lain Man arada an yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al Qur’an
(siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, hendaknya ia membaca Al Qur’an).
Ada seorang datang kepada saya: “Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya
sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal 1 kali lagi, kira-kira masalah saya
nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab: “yang sial itu saya, kok bertemu dengan
orang yang mempunyai masalah seperti itu.”
Berapa yang hadir setiap sema’an? Jangan lebih lima persen. Nanti bila sami’innya terlalu banyak, saya hanya menangis dan membaca Al Fatihah, lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan untuk orang banyak, untuk satu orang saja saya tidak bisa.
Saya sendiri sebagai pencetus sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen, sementara sami’in datang dari jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai surat Al fatihah dibaca sampai berakhir setelah doa khotmil Qur’an malam berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya ini, baru datang kalau sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti. Terkadang saya berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil kiai.
Kalau saya nongol, mungkin tak cukup semalaman. Satu persatu harus dilayani. Saya besok ke mana? Apa yang harus saya lakukan? Kami tidak punya modal? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Dan, saya dituntut untuk memberikan keterangan yang bisa mereka terima, setidaknya agak menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar